Syekh Dr Yusuf Qardhawi adalah ulama besar Sunni. Ia merupakan ketua
Persatuan Ulama Dunia. Doktor fikih dari Universitas Al Azhar, Kairo,
kelahiran 9 September 1926 di desa kecil bernama Shafth di tengah Delta
Nil, Mesir, ini telah menulis puluhan buku dan diterjemahkan dalam
berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Pandangannya selalu menjadi
fatwa dan rujukan umat Islam dunia. Fatwa-fatwanya bukan hanya seputar
ibadah dan muamalah, tapi juga mencakup berbagai masalah, dari
politik, demonstrasi hingga revolusi rakyat melawan rezim penguasa yang
zalim.
Rihlah Ubudiyah adalah blog yang menghadirkan catatan singkat tentang amal, ibadah, dan perjalanan spiritual sehari-hari, untuk memperkuat hati dan mendekatkan diri kepada Allah.
My Profil
Ingat !!!!
Senin, 10 Juni 2013
Ketika Syekh Qardhawi Akui Kesalahanya
Sabtu, 08 Juni 2013
Khutbah Jum'ah B. Arab - 17 Mei 2013
الموضوع : الهمة العالية
الخطيب : أغوس ياسين
في مسجد الجامع بهرم سيمان جامعة دار السلام - كونتور - فونوروكو
الخطبة الأولى
بسم الله
الرحمن الرحيم
الحمد لله خلق الخلقَ ودرَى، وقدَّر لأوليائِه الخِيَرةَ على كل
الورَى، ليكونوا للعالَمين في شُمِّ الذُّرَى، ويَظْهروا بِدِيْنهم على كل القُرى،
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ولا شكَّ ولا امْتِرا، وأشهد أن محمدًا
عبدُه ورسولُه خيرُ من وَطِئَ الثَّرَى، صلَّى الله وسلَّم وبارَك عليه، وعلى آله
وأصحابِه الذين استمسكوا بأَوْثقِ العُرَى.
أما بعد:
Khutbah Jum'ah Bahasa Arab - 9 Nov 2012 - ISID
الموضوع : مفهوم
الحرية في الإسلام
الخطيب : أغوس
ياسين
بمسجد الجامع في هرم سيمان جامعة دار السلام
الخطبة الأولى
بسم الله الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْأَحَدِ
الصَّمَدِ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ،
شُرِعَ لَنَا مِنَ الدِّيْنِ مَا وَصَّى بِهِ نُوْحًا وَإِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى وَعِيْسَى
وَمُحَمَّدًا - صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ -، فَأَقِيْمُوا
الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُه
َوَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، وَخَيِّرَتُهُ مِنْ خُلُقِهِ، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ، وَأَدَّى
الْأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، وَجَاهدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ، فَصَلَوَاتُ
اللهِ وَسَلَامُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ،
وَعَلَى أَصْحَابِهِ الْغُرِّ الْمَيَامِيْنَ، وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ
بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ:
Jumat, 07 Juni 2013
Penjajahan (model) Baru Belanda ke Indonesia
Tadi malam kita menyaksikan
pertandingan antara timnas Indonesia versus Belanda. Bukan hasil 0-3 untuk tim
tamu yang membuat kita kecewa, tapi “diperetelinya” kostum kebanggaan timnas (merah
putih) saat bertanding. Ya, kostum itu merupakan identitas dan harga diri. Yang
berani mengusiknya berarti mencoba mengusik harga diri bangsa kita.
Mari kita flashback sejenak ke
sejarah penjajahan Belanda dahulu. Selama 3,5 abad bumi pertiwi ini diduduki dan
dikuras segala macam kekayaannya. Dan sebagai rakyat, kita diperlakukan seperti
budak. Segala haknya dirampas, begitukah manusia memperlakukan manusia?
Berkat kegigihan para pejuang
kita yang tidak mengenal putus, para penjajah tersebut dapat diusir dari negri
ini. Satu keinginan kuat yang dicita-citakan adalah agar penjajahan di atas
dunia ini dihapuskan. Artinya, bangsa kita tidak boleh sampai menjajah kembali.
Sekarang, memang tidak ada
lagi bangsa yang datang untuk menjajajah bangsa kita. Tapi faktanya, penjajahan
sekarang lebih kejam dan lebih menghancurkan segala aspek kehidupan. Ideologi dan
moralitas adalah sasaran utamanya. Kita bisa melihat, hampir seluruh media baik
elektronik maupun cetak isinya tidak ada yang luput dari pengikisan nilai-nilai
kemanusian. Lebih bahayanya lagi, semua itu tanpa banyak yang menyadari akan
akibatnya.
Bangsa yang kuat adalah yang
memiliki ideologi kuat. Selalu mempertahankan harga diri, apapun resikonya, bahkan sampai tetesan darah
terakhirpun. Apakah bangsa kita sekarang sudah demikian? Atau masih menjadi
domba yang mudah dipermainkah dan di adu satu sama lain. Wallahua’lam.
By. Agus Yasin
Kamis, 06 Juni 2013
Isra' Mi'raj dan Teori Relativitas
Sejarah Islam mencatat peristiwa unik dan sulit dicerna akal, Isra
dan Miraj. Secara istilah, Isra berjalan di waktu malam hari, sedangkan Miraj
adalah alat (tangga) untuk naik. Isra mempunyai pengertian perjalanan Nabi
Muhammad saw pada waktu malam hari dari Masjid Al Haram Mekkah ke Masjid Al
Aqsha Palestina. Miraj adalah kelanjutan perjalanan Nabi Muhammad saw dari Masjid
Al Aqsha ke langit sampai di Sidratul Muntaha dan langit tertinggi tenpat Nabi
Muhammad saw bertemu dengan Allah swt. Isra’ Miraj adalah kisah perjalanan Nabi
Muhammad ke langit ke tujuh dalam waktu semalam. Prosesi sejarah perjalanan
Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad termaktub dalam QS. 17.Al-Isra’ :1 yang berbunyi
“Maha suci Allah yang menjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari
Masjidil Haram ke Majidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya agar Kami
memperlihatkan kepadanya sebahagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. (QS.
17.Al-Isra’ :1)
Rabu, 05 Juni 2013
Relevankah al-Qur'an untuk Tetap Diyakini Sebagai Mu'jizat?
MEMBACA
sekilas
buku “Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformasi Atas Kritik al-Qurʾan Terhadap
Agama Lain” yang diterbitkan baru-baru ini dengan penulisnya Munʿim Sirry,
terutama pada bagian belakang uraian ringkasnya (blurb), pembaca secara
sadar maupun tidak pada akhirnya akan digiring kepada suatu pergolakan
pemikiran mengenai persoalan kebenaran tentang al-Qurʾan sebagai muʿjizat
sepanjang zaman. Dengan pendekatan hermeneutika yang “mengunci” suatu subjek
pembahasan pada tataran historitasnya saja, karya-karya seperti ini
memposisikan al-Qurʾan seperti layaknya kitab-kitab “suci” agama lain yang
tidak bisa lepas dari “penafsiran-penafsiran baru”, namun pada hakikatnya malah
menjauhkan al-Qurʾan dari esensi dan peran yang sebenarnya.
Rahasia di balik Sedekah
Dikisahkan, salah
seorang sahabat bernama Abdullah bin Al-Mubarak, ketika melaksanakan ibadah
haji, tertidur di Hijir Isma’il. Dalam tidurnya dia bermimpi bertemu dengan
Rasulullah saw. dan berpesan:
“Wahai Abdullah, apabila engkau kembali ke Baghdad, pergilah ke Bahramal Majusi, (pemimpin agama Majusi). Sampaikan salamku dan katakan
Allah telah redha kepadanya.”Abdullah tersadar dan menyangka mimpi itu daripada syaitan. Namun mimpi itu datang tiga kali berulang-ulang. Maka setelah selesai mengerjakan haji, dia lantas pulang ke Baghdad dan mencari Bahramal Majusi.
“Wahai Bahramal Majusi, bolehkah aku tahu kebaikan apa yang pernah engkau lakukan?” tanya Abdullah setelah bertemu dengan orang yang dimaksudkan.
Langganan:
Postingan (Atom)





